Belajar Khat, Masih pentingkah ?
Khat Adalah seni Kaligrafi Arab. Namun tidak semua bangsa
Arab bisa menulis Khat dengan baik. Bahkan Mesir yang dikenal dengan Azharnya
sebagai pusat keilmuan keislaman pada masa ini, tidak semua warganya mampu
menulis dengan baik. Hal ini karena pada masa kecil dahulu, mereka dituntut
untuk menulis dengan cepat, bukan menulis dengan baik dan indah. Walhasil, bisa
kita lihat tulisan kantor administrasi di perkuliahan di Azhar, ada beberapa
staff yang tidak mampu membaca dan mengenali tulisannya sendiri.
Sebenarnya bukan hanya Khat atau seni kaligrafi arab saja yang
mengalami kemunduran. Tapi seni kaligrafi bangsa lain mengalami kemunduran.
Tapi hal bukan menjadi alasan kita bersantai-ria dengan keadaan, karena khat
mempunyai peranan yang sangat penting, bukan hanya pada bangsa Arab tapi juga
bagi Agama Islam umumnya.
Dahulu kala, ketika Al-Quran diturunkan, Rasulullah memberi
tugas ke lima sahabatnya untuk menulis wahyu. Mereka adalah sekertaris
terpercaya Rasulullah. Para Kuttab al-Wahyi mengajarkan dan menyampaikan
ilmunya pada orang setelahnya. Kemudian rantai pembelajaran khat ini berlanjut
dari era Khulafa’ Rasyidin, dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiah lalu Dinasti
terakhir Khilafah Islamiyah dinasti turki Usmani. Di tangan para Khattat dan
Ulama, Al-Quran sampai saat ini terjaga keotentikannya fi as-shudur wa fi
as-suthur¸juga membawa dan menjaga pemahaman yamg lurus terhadap Al-Quran
dan As-Sunnah.
melihat pentingnya Khat, beberapa ulama menuliskan mengenai
Khat. Ada yang berkata “perbaikilah khatmu, karena itu adalah salah satu
pembuka rezeki”,”ikatlah ilmumu dengan Tulisan”, “khat adalah Geometri Rohani
yang tampak dengan alat jasmani”.
Sejak dahulu kala, bangsa lain banyak yang cemburu dengan
perkembangan pesat Khat. Para revolusioner khat klasik semisal Ibnu Muqlah,
Yaqut al-Mu’tashimi, ibnu al-Bawab, Hamid Al-Amidy hingga Khattat lainnya
pernah dituduh mencotek seni kaligrafi lbangsa lain. Adapula pengakuan dari
kaum bangsa lain yang mengagumi keindahan dan kerumitan khat arab.
Hingga Masa Dinasti Abbasiah saja, khat sudah mencapai 10
jenis khat dengan detail dan kerumitan
kaidah tiap jenis khat yang berbeda-beda. Saat ini, jumlah khat lebih 15 jenis
dengan uslub turki, iraq, dan mesir. Dan dengan manhaj setiap guru besar khat
yang berbeda-beda pula.
Disamping itu, secanggih
apapun aplikasi atau software yang ada di komputer, tidak mampu menyamai
tulisan manual seorang khattat yang menguasai seluruh kaidah penulisan khat
tertentu. Bahkan dalam beberapa khat, ada yang mengunggunakan mizan bashari,
fan, tata letak dan lain lain yang hanya diterima dan dikelola oleh manusia
yang mempunyai otak sebelah kiri yang mampu berfikir imanjinatif.
Untuk mengetahui dan mampu menulis khat dengan baik, benar
dan indah, tidak cukup dengan otodidak dan belajar lewat internet dan youtube.
Sama seperti Ulum Syar’iyah,
harus melalui perantara Guru. Karena ada asrar huruf atau
rahasia-rahaisa kaidah tiap huruf yang perlu dijelaskan dengan bertatap muka.
Saat ini, ada beberapa manhaj kaligrafi yang mempunyai sanad
keilmuan yang sampai pada Para Sahabat penulis wahyu. Salah satunya Manhaj
Hamidi yang dikembangkan oleh syeikh Belaid Hamidi. Syeikh Belaid Hamidi adalah
seorang Khattat berkebangsaan maroko yang belajar uslub khat
turki dengan bimbingan Gurunya Syeikh Hasan Celebi. Syeikh Hasan Celebi adalah
murid Sang Maestro Khat Syeikh Hamid Al-Amidiy. Beliau dijuluki Bapak Kaligrafi
dunia karena mampu meramu kaidah umum berbagai khat yang kita gunakan saat ini.
Maka khat sebagai kesenian islam yang punya peranan
mengantarkan agama sampai pada kita, maka patutlah seorang muslim bukan hanya
bangsa Arab untuk menjaga kesenian ini. Sehingga agama tetap mempunyai
identitas kesenian yang kuat dan murni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar